TUGAS III
CERITA LEGENDA SITU BAGENDIT
.jpg)
Pada zaman dahulu kala, di sebelah utara kota Garut, terdapat sebuah desa
yang penduduknya kebanyakan adalah petani. Karena tanah di desa itu sangat subur
dan tidak pernah kekurangan air, maka sawah-sawah mereka selalu menghasilkan
padi yang berlimpah ruah. Namun meski begitu, para penduduk di desa itu tetap
miskin kekurangan. Hal tersebut disebabkan oleh ulah seorang tengkulak bernama
Nyai Bagendit.
Hari masih sedikit gelap dan embun masih bergayut di dedaunan, namun para
penduduk sudah bergegas menuju sawah mereka. Hari ini adalah hari panen. Mereka
akan menuai padi yang sudah menguning dan menjualnya kepada Nyai Bagendit.
Nyai Bagendit adalah orang terkaya di desa itu. Rumahnya mewah, lumbung
padinya sangat luas karena harus cukup menampung padi yang dibelinya dari
seluruh petani di desa itu. Ya! Seluruh petani. Dan bukan dengan sukarela para
petani itu menjual hasil panennya kepada Nyai Bagendit. Mereka terpaksa menjual
semua hasil panennya dengan harga murah kalau tidak ingin cari perkara dengan
centeng-centeng suruhan wanita itu. Lalu jika pasokan padi mereka habis, mereka
harus membeli dari Nyai Bagendit dengan harga yang melambung tinggi.
"Wah kapan ya nasib kita berubah?" ujar seorang petani kepada teman
nya."Tidak tahan saya hidup seperti ini. Kenapa yah, Tuhan tidak menghukum si
lintah darat itu?"
"Sssst, jangan keras-keras, nanti ada yang dengar!" sahut temannya. "Kita mah
harus sabar! Nanti juga akan datang pembalasan yang setimpal bagi orang yang
suka berbuat aniaya pada orang lain. Tuhan tidak pernah tidur!"
Sementara itu Nyai Bagendit sedang memeriksa lumbung padinya.
"Barja." kata Nyai Bagendit pada centengnya."Bagaimana? Apakah semua padi
sudah dibeli?"
"Beres Nyi." jawab Barja. "Lumbung sudah penuh diisi padi, bahkan beberapa
masih kita simpan di luar karena sudah tak muat."
"Ha ha ha ha...! Sebentar lagi mereka akan kehabisan beras dan akan membeli
padiku. Aku akan semakin kaya!" Nyai Bagendit tertawa senang. "Awasi terus Para
petani itu, jangan sampai mereka menjual hasil panennya ke tempat lain. Beri
pelajaran bagi siapa saja yang membangkang!"
Cerita Legenda Situ Bagendit
Dongeng Sunda Jawa Barat
Benar saja, beberapa minggu kemudian para penduduk desa mulai kehabisan bahan
makanan bahkan banyak yang sudah mulai menderita kelaparan. Sementara Nyai
Bagendit selalu berpesta pora dengan makanan-makanan "Aduh Pak, persediaan beras kita sudah menipis. Sebentar lagi kita terpaksa
harus membeli beras ke Nyai Bagendit." keluh seorang penduduk desa pada
suaminya. "Kata tetangga harganya sekarang lima kali lipat dibanding saat kita
jual dulu. Bagaimana ini, Pak?"
Pada suatu siang yang panas, dari ujung desa nampak seorang nenek yang
berjalan terbungkuk-bungkuk. Dia melewati pemukiman penduduk dengan tatapan
penuh iba.
"Hmm, kasihan para penduduk ini. Mereka menderita hanya karena kelakuan
seorang saja. Sepertinya hal ini harus segera diakhiri." pikir si nenek. Dia
berjalan niendekati seorang penduduk yang sedang menumbuk padi.
"Permisi! Saya numpang tanya," kata si nenek.
"Ya, Nek ada apa ya?" jawab wanita yang sedang menumbuk padi tersebut
"Dimanakah saya bisa menemukan orang yang paling kaya di desa ini?" Tanya si
nenek.
"Oh, maksud nenek rumah Nyai Bagendit?" kata wanita itu. "Sudah dekat, Nek.
Nenek tinggal lurus saja sampai ketemu pertigaan, lalu belok kiri. Nanti akan
terlihat rumah yang sangat besar. Itulah rumahnya. Memang nenek ada periu apa
sama Nyai Bagendit?" di rumahnya
"Saya mau minta sedekah," kata si nenek.
"Ah percuma saja nenek minta sama dia, tidak akan dia memberinya. Kalau nenek
lapar, makanlah di rumah saya, tapi hanya seadanya." kata wanita itu.
"Tidak usah, terima kasih" jawab si nenek. "Saya hanya mau tahu reaksinya
kalau ada pengemis yang minta sedekah. Oya, tolong beritahu penduduk desa
lainnya agar siap-siap menqungsi. Karena sebentar lagi akan ada banjir
besar."
"Nenek bercanda, ya?" kata wanita itu kaget."Mana mungkin ada banjir di musim
kemarau?"
"Aku tidak bercanda," kata si nenek."Aku adalah orang yang akan memberi
pelajaran pada Nyai Bagendit. Maka dari itu segera mengungsilah, bawalah barang
berharga milik kalian," kata si nenek. Setelah itu si nenek pergi meninggalkan
wanita tadi yang masih berdiri mematung.
Sementara itu Nyai Endit sedang menikmati hidangan yang berlimpah, demikian
pula para centengnya. Si pengemis tiba di depan rumah Nyai Endit dan langsung
dihadang oleh para centeng.
"Hei pengemis tua! Cepat pergi dari sini! Jangan sampai teras rumah ini kotor
terinjak kakimu!" bentak centeng.
"Saya mau minta sedekah. Mungkin ada sisa makanan yang bisa saya makan. Sudah
tiga hari saya tidak makan," kata si nenek.
"Apa peduliku," bentak centeng. "Kalau mau makan ya beli, jangan minta! Sana,
cepat pergi sebelum saya seret."
Tapi si nenek tidak bergeming di tempatnya. "Nyai Endit keluarlah! Aku mau
minta sedekah. Nyai Bagendiiit ...!" teriak si nenek.
Centeng-centeng itu berusaha menyeret si nenek yang terus berteriak-teriak,
tapi tidak berhasil.
"Siapa sih yang berteriak-teriak di luar," ujar Nyai Endit. "Mengganggu orang
makan saja!"
"Nei, siapa kamu nenek tua? Kenapa berteriak-teriak di depan rumah orang?"
bentak Nyai Bagendit.
"Saya hanya mau minta sedikit makanan karena sudah tiga hari saya tidak
makan,"kata nenek.
"Tidak ada makanan di sini! Cepat pergi, nanti rumahku kotor."
Namun, sang nenek bukannya pergi tapi justru menancapkan tongkatnya ke tanah
lalu memandang Nyai Endit dengan penuh kemarahan.
"Bagendit! Selama ini Tuhan memberimu rezeki berlimpah tapi kau tidak
bersyukur. Kau kikir! Sementara penduduk desa kelaparan kau malah
menghambur-hamburkan makanan" teriak si nenek berapi-api. "Aku datang kesini
sebagai jawaban atas doa para penduduk yang sengsara karena ulahmu! Kini
bersiaplah menerima hukumanmu."
"Ha ha ha .. Kau mau menghukumku? Tidak salah nih? Kamu tidak lihat
centeng-centengku banyak! Sekali pukul saja, kau pasti mati," kata Nyai
Endit.
"Tidak perlu repot-repot mengusirku," kata nenek. "Aku akan pergi dari sini
jika kau bisa mencabut tongkatku dari tanah."
"Dasar nenek gila. Apa susahnya mencabut tongkat. Tanpa tenaga pun aku bisa!"
kata Nyai Endit sombong. Lalu hup! Nyai Endit mencoba mencabut tongkat itu
dengan satu tangan. Ternyata tongkat itu tidak bergeming. Dia coba dengan dua
tangan. Hup hup! Masih tidak bergeming juga.
"Sialan!" kata Nyai Endit. "Centeng! Cabut tongkat itu! Awas kalau sampai
tidak tercabut. Gaji kalian aku potong!"
Centeng-centeng itu mencoba mencabut tongkat si nenek, namun meski sudah
ditarik oleh tiga orang, tongkat itu tetap tak bergeming.
"Ha ha ha. kalian tidak berhasil?" kata si nenek. "Ternyata tenaga kalian
tidak seberapa. Lihat aku akan mencabut tongkat ini."
Brut! Dengan sekali hentakan, tongkat itu sudah terangkat dari tanah.
Byuuuuurrr!!!! Tiba-tiba dan bekas tancapan tongkat si nenek menyembur air yang
sangat deras.
"Bagendit! Inilah hukuman untukmu! Air ini adalah air mata Para penduduk yang
sengsara karenamu. Kau dan seluruh hartamu akan tenggelam oleh air ini."
Setelah berkata demikian si nenek tiba-tiba menghilang entah kemana. Tinggal
Nyai Endit yang panik melihat air yang meluap dengan deras. Dia berusaha berlari
menyelamatkan hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya beserta
hartanya.
Kini, di desa itu terbentuk sebuah danau kecil yang dinamakan 'Situ Bagendit'
Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari nama Bagendit. Beberapa orang
percaya bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar
danau. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai Endit yang tidak berhasil kabur dari
jebakan air bah.
Pesan moral dari Cerita Legenda Situ Bagendit adalah kita tidak boleh menjadi orang yang sombong, kikir, serta angkuh terhadap orang lain. Bila diberi nikmat harta yang banyak berbagilah dengan sesama.


Komentar
Posting Komentar